Malang-Kav.10 – Seniman Kota Malang lakukan aksi untuk mengkampanyekan penyelamatan Hutan Kota Malabar (23/8). Beberapa seniman yang terhimpun dalam Aliansi Peduli Hutan Kota Malabar ini melakukan aksi dengan nyanyian, pembacaan puisi juga aksi teatrikal diiringi bunyi bunyian perkusi dan gitar. Sebelumnya aliansi ini, melalui Aji Prasetyo, juga telah menuliskan petisi yang ditujukan kepada Walikota Malang M. Anton juga PT. Otsuka di laman change.org. Hingga sore ini, sudah ada 3400-an orang yang menandatangani petisi tersebut.

Aksi ini diawali di areal Taman Merbabu, yang letaknya persis di sebelah hutan kota malabar yang kini telah ditutup seng melingkar juga ditanami sebuah tower guna kebutuhan pembangunan proyek. Dari Taman Merbabu, para seniman bergerak menuju Hutan Malabar. Denny Mizhar, juru bicara aksi ini menegaskan bahwa masyarakat menginginkan kembali fungsi hutan kota sebagai hutan sebagai tempat berkembangnya ekosistem tumbuhan dan hewan di dalamnya. “Kalau hutan ini dirubah maka seluruh ekosistem di dalamnya pun juga akan berubah. RTH itu untuk anak cucu, supaya mereka bisa menghiurup udara segar” ucap sastrawan Malang ini.

Dirinya juga menyayangkan pembangunan Perumahan Ijen, Malang Town Square, dan Mall Olympic Garden yang telah merenggut sejumlah ruang terbuka hijau di Kota Malang ini.

Aji Prasetyo, Koordinator Aliansi Peduli Hutan Kota Malabar, juga ikut menyuarakan kekesalannya. “Pemerintah telah meledek kita, dikira kita kurang piknik makanya bikin tempat untuk rekreasi.” tegasnya. Pria berambut panjang ini juga menambahkan bahwa pembangunan MOG kini menyisakan masalah untuk masyarakat. “Masyarakat di sekitar MOG itu sekarang susah mendapatkan air, harus memperdalam sumur supaya bisa mendapat air. Ini jelas terbukti, kita sudah kekurangan ruang terbuka hijau.” ungkap pemilik warung Kedai Tjangkir ini.

Dirinya juga menambahkan bahwa warga harus ikut andil dalam pembangunan tata kota. “Banyak warga yang lebih tahu tentang tata kota daripada pemerintah.” tandasnya.

Dalam aksi ini juga terjadi kendala. Saat para seniman memasuki kawasan Hutan Malabar, tiba tiba seorang pekerja pembangunan hutan kota tersebut keluar dan mengusir mereka. Pekerja tersebut juga langsung menutup rapat-rapat pintu pagar Hutan Kota Malabar. Pengusiran ini tak membuat putus asa, para seniman tetap melanjutkan aksinya dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri dengan khidmat. Disusul sebuah lagu berjudul Malabar  hasil ciptaan salah satu seniman tersebut. “Hutanku hutan kota,Hutan Malabar satu satunya. Haruskah dijadikan taman? Mari kita selamatkan” seperti itu penggalan lagu tersebut. (ziz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.