Oleh: Agil Adi Darma

Tidak banyak yang tahu, dan catatan sejarah pun seperti melupakan. Sebuah kampung di pedalaman Sumatera Barat melahirkan patriotisme yang besar pengaruhnya dalam mempertahankan kemerdekaan.

70 tahun sudah Indonesia merdeka dari penjajahan. Sebagian besar masyarakat hanya mengenal Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, atau Bandung sebagai pusat dari perjuangan dalam merebut atau mempertahankan kemerdekaan.

Di Yogyakarta, perjuangan itu lahir saat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda tahun 1948. Pejabat-pejabat tinggi Republik Indonesia ditawan. Bukanlah Indonesia telah tiada. Mr. Syarifudin Prawiranegara menyatakan Republik Indonesia masih ada dan menjalankan roda pemerintahan saat itu.

Dia mengepalai Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) lengkap dengan anggota kabinet yang berpusat di Bukittinggi. Tentu bukan perjuangan yang mudah. Kesulitan itu terasa saat Belanda memblokade seluruh hubungan Indonesia dengan dunia luar.

Semua stasiun radio dibombardir Belanda, termasuk RRI di Bukittinggi yang ketika itu juga menjadi ibukota provinsi Sumatera. Belanda menganggap Indonesia sudah tidak ada setelah bukota Yogyakarta jatuh.

Namun sebuah mukjizat terjadi. Sebuah pemancar bernama YBJ-6 selamat karena bom yang jatuh di sampingnya tidak meledak. Kesempatan ini membuka peluang PDRI berhubungan dengan dunia internasional. PDRI mengusahakan pemancar YBJ-6 yang berhasil selamat dapat tersambung dengan jalur komunikasi India yang saat itu akan mengadakan Konferensi Pan Asia di New Delhi.

YBJ-6 saat itu merupakan satu-satunya pemancar di Indonesia yang selamat dari serbuan Belanda.

Segera, malam harinya, pemancar dan perangkat lainnya: generator, radio penerima, kunci morse, kawat antenna, dan bahan bakar, dibongkar dan dilarikan rakyat. Setelah itu, rakyat meninggalkan Bukittinggi dan membawa pemancar ke pedalaman.

Pemancar dibawa dari Pauh Tinggi dengan berjalan kaki karena tidak ada angkutan yang bisa masuk ke Lintau. Beratnya tidak kurang dari 750 kg. Perjalanan kaki pun harus dilakukan pada malam hari untuk mengamankannya.

Sebelum dari Pauh Tinggi, pemancar tersebut sempat singgah di beberapa tempat seperti Halaban dan Lubuk Sikaping. Namun karena Bukittinggi dan Baso juga dikuasai Belanda, pemancar tersebut mau tidak mau terpaksa dilarikan ke daerah terpelosok agar tidak tercium mata-mata Belanda.

Akhirnya dengan perjuangan berat dan melelahkan menghadapi rintangan perjalanan, YBJ-6 berhasil dilarikan ke Lintau tepatnya di Tangah Padang, Balai Tangah.

Disinilah perjuangan dramatis dimulai. Usaha menembus blokade komunikasi Belanda terus dilakukan. Berhari-hari usaha yang dilakukan operator tidak menemukan hasil. India tidak menjawab pesan-pesan broadcast yang dikirim dari YBJ-6 melalui saluran morse radio karena sebelumnya YBJ-6 memang tidak pernah menyelenggarakan perhubungan dengan pemancar VWX-2 milik India.

Usaha pengiriman siaran hanya perkiraan dan untung-untungan saja. VWX-2 hanya sering berkomunikasi dengan radio di Yogyakarta yang sudah jatuh ke tangan Belanda. Sementara di luar sana, mata-mata Belanda terus berkeliaran ke pelosok-pelosok dan semakin kencang menggemakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada.

Namun berkat usaha keras dan tanpa lelah, akhirnya VWX-2 menjawab pesan dari YBJ-6 pada 17 Januari 1949. Blokade Belanda berhasil ditembus. Hampir satu bulan lamanya perjuangan.

Dua hari kemudian, ketua PDRI mengirim telegram kepada Mr. Maramis yang sedang berada di New Delhi. Tujuannya untuk mengangkat dirinya sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.

Susahnya medan dan perhubungan mengakibatkan telegram bersejarah tersebut baru diterima Mr. Maramis delapan hari kemudian. Dan saat itu pula, Republik Indonesia yang mulai hilang dalam pergaulan internasional mulai diakui kembali, setidaknya oleh negara-negara yang hadir pada konferensi pan Asia.

Inilah salah satu perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di pelosok Sumatera yang luput dari mata pengamatan. Belum lagi perjuangan rakyat di daerah lain yang tidak terekspos media.

Entah di tengah hutan, ataupun perbatasan, media seolah enggan memberitakannya. Pemerintah seakan lupa, mereka adalah bagian dari negeri ini. Hanya sedikit media yang mau memberitakan bahwa ada perjuangan rakyat di luar Jawa dan sangat berpengaruh bagi bangsa.

Setiap perjuangan selalu terkait di daerah yang kini menjadi kota-kota besar di Pulau Jawa. Lalu bagaimana dengan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua bahkan pulau-pulau kecil di perbatasan yang juga memiliki cerita sejarah berkaitan dengan patritotisme untuk merebut dan mempertahankan negara ini?

Indonesia bukan hanya Jawa dengan penduduknya yang sangat padat. Lebih dari itu, Indonesia yang kini merdeka adalah Sabang sampai Merauke dan Mianggas hingga pulau Rote. Gerak perjuangan itu masih terasa dalam sanubari penerus bangsa.

 

Penulis merupakan pegiat Kavling 10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.