Malang-Kav.10 –Pengadaan renovasi Hutan Kota Malabar yang tengah dilakukan Pemkot Malang menuai kritik. Salah satu kritik itu disuarakan musisi Kota Malang, Iksan Skuter. Iksan mengaku gelisah atas pembangunan hutan kota terakhir yang dibangun sejak zaman belanda ini.

Iksan mengajak rekan rekan musisi lainnya untuk membuat sebuah kompilasi musik bertajuk #SaveHutanKotaMalabar.

Proyek ini melibatkan musisi-musisi Malang untuk mengkampanyekan penyelamatan Hutan Kota Malabar.

“Saya pribadi yakin, bahwa musik adalah media propaganda penyampai pesan kegelisahan hilangnya Hutan Kota terakhir di kota Malang.” kata Iksan saat dimintai keterangan kamis kemarin (20/8).

Dengan ini pula Iksan mengundang musisi untuk menghimpun karya mereka. Mereka dapat berpartisipasi dengan membuat sebuah lagu, atau lebih, yang bertema: hutan, pohon, air, tanah, udara, lingkungan dan hutan Malabar.

“Jika kawan-kawan lain berjuang dengan caranya masing-masing, maka musisi akan membuat karya musik untuk dijadikan media perjuangan penyelamatan hutan kota Malabar,” tutur pria bernama asli Muhammad Iksan ini.

Sampai hari ini sudah ada 12 musisi malang yang bergabung dalam projek kompilasi ini dan kemungkinan masih akan bertambah tiap harinya. Iksan berharap agar semua musisi dapat telibat, karena tidak ada batasan genre musik tertentu untuk ikut andil dalam kampanye ini.

Rencananya, Sabtu 29 Agustus mendatang akan diadakan panggung terbuka yang menampilkan musisi partisipan. Acara tersebut akan diadakan di Komika cafe Jl. Jakarta no 34, Malang.

Disana juga akan dilakukan proses rekaman baik secara audio maupun visual guna kepentingan album kompilasi.

Iksan menuturkan, album ini nantinya akan dibagikan gratis kepada masyarakat.

Ia menambahkan, selain berpartisipasi dalam album kompilasi, masyarakat umum dan musisi juga bisa membuat video pendek berdurasi 15 detik dan 30 detik berisikan kampanye #savehutankotamalabar. Kemudian video tersebut dapat diunggah lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan Youtube

Musisi kelahiran Blora ini mengaku mendapat banyak dukungan positif dari masyarakat atas proyek album kompilasi musik ini. Proyek non-profit yang mengangkat isu lingkungan ini dinilai baru dan belum pernah diadakan sebelumnya terutama di Malang.

Ia juga tidak takut jika mendapat komentar negatif dari masyarakat. “Kalapun ada tanggapan negatif yang meragukan proyek ini, kami anggap itu adalah bahan bakar kami untuk segera merealisasikan proyek kompilasi ini.” pungkasnya.

Diakui juga oleh koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Hutan Kota Malabar, Aji Prasetyo bahwa pembangunan Hutan Kota Malabar dinilai tidak mengedepankan konsep ekologi.

“Jika proyek pembangunan hutan Kota Malabar tersebut tetap dilanjutkan maka akan berdampak pada kultur, sosial, pola hidup, dan keamanan masyarakat” kata komikus asal Malang ini. (ziz)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.