Malang–Kav.10 Dalam tuntutannya mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT), Aliansi Mahasiswa Brawijaya (AMBARAWA) mengepung teras depan rektorat. Mereka menuntut Rektor Universitas Brawijaya, Muhamad Bisri, menandatangani tuntutan mereka.

Sayangnya, para mahasiswa tak bisa bertemu dengan Bisri. Dirinya sedang menghadiri rapat di Kejaksaan Tinggi di Surabaya. Mahasiswa harus puas menyampaikan tuntutannya melalui Sihabudin, Wakil Rektor II.

Para mahasiswa ini menuntut pihak rektorat untuk melakukan transparansi Uang Kuliah Tunggal. Berdasarkan kajian mereka, UB menetapkan nominal UKT di atas rata-rata yang berbeda dengan  beberapa universitas lain di Indonesia.

Sihabudin menyatakan setuju pada tuntutan ini. Atas nama rektor, dia membubuhkan tanda tangannya pada lembar persetujuan yang telah disediakan para mahasiswa. “Jangan ada mahasiswa yang tidak bisa kuliah gara gara tidak bisa membayar, Insya Allah nantinya hal ini tidak akan ada lagi ” tambahnya setelah menandatangani tuntutan.

Kemungkinan tuntutan ini  disampaikan kepada rektor pada 4 juni 2015.

Untuk mempermudah langkah para mahasiswa, Sihabudin mengarahkan mereka agar menghubungi masing-masing dekanat. Sebabnya, seluruh proses penentuan besaran nominal UKT dilakukan setiap fakultas.

Dalam penutupan aksi nya, Reza Adi Pratama mengatakan bahwa ini bukanlah akhir dari tuntutan. “ kita lanjutkan tuntutan tuntutan ini ke fakultas fakultas! ” ujarnya sambil menyerukan kata ’hidup mahasiswa!’ dan selanjutnya kerumunan mahasiswa bubar dan menuju lapangan rektorat untuk evaluasi aksi. (ziz/eff)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.