Malang Kav. 10 – Jumat 29/5, Aliansi Mahasiswa Brawijaya (AMBARAWA) UB berorasi menuntut penurunan dan keterbukaan dalam penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Hal ini dikatakan melebihi rata-rata UKT di beberapa Universitas di Indonesia. “Disini kami menuntut 3 hal, yang pertama transparansi UKT dimana pengalokasian yang tepat, kedua bagaimana penentuan golongan atau kategorinya, dan kuota mahasiswa per golongannya, kemudian tuntutan kita yang kedua adalah melibatkan mahasiswa dalam proses perumusan UKT, dan sesuai keputusan kemarin kita minta di monotarium sekaligus melibatkan mahasiswa dalam perumusan UKT,” Kata Reza selaku Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM).

UKT yang ditetapkan Brawijaya untuk ditinjau kembali, tujuannya supaya hal tersebut tidak memberatkan mahasiswa. “Selama ini penetapan UKT tidak pernah melibatkan mahasiswa, selain itu kemarin pernah ada pertemuan antara perwakilan rektor, BEM dibeberapa kampus dengan Menteri Staf Dikti dan Dirjen Dikti di Jakarta. Hasilnya disepakati bahwa Mahasiswa harus terlibat dalam perumusan UKT, tapi di Brawijaya ini belum dilakukan dan terakhir kami meminta UKT ini diturunkan,” Tukas Reza lagi.

Disisi lain Nano selaku koodinator Orasi mengatakan di luar banyak anak berbagai latar belakang orang tua sebagai buruh, petani, dll yang tidak mampu mengakses pendidikan dengan baik.  Sebab pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia dan tidak bisa ditukar-tukar. “Sekarang kita lihat Universitas Brawija (UB) itu adalah kawasan industri, dimana disini mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk membangun gedung-gedung di UB,” tutup dia. (mua/aya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.