suasana Seminar dari rangkaian acara Kongres Luar Biasa PPMI Nasional di aula Balai Desa Kepuharjo Kab. Malang (17/4).  dok: kavling10
suasana Seminar dari rangkaian acara Kongres Luar Biasa PPMI Nasional di aula Balai Desa Kepuharjo Kab. Malang (17/4). dok: kavling10

MALANG-KAV.10 Banyaknya media massa dan sosial media dalam era digital, tak menyurutkan niat mahasiswa untuk bergerak di bidang pers mahasiswa. Hanya perlu suatu strategi untuk menghadapi itu.

Demikian pernyataan Eko Subiantoro menanggapi perkembangan gerakan dan politik gerakan pers mahasiswa (Persma) pada Seminar Nasional yang digagas PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) Nasional (17/4).

Sosial media dengan cepat memberi informasi kepada masyarakat. “Tantangan ini membuat pers harus lebih akurat dalam pembuatan berita,” ujarnya.

Era digital ini berlaku juga bagi Persma yang bergerak dalam ruang kampus. Berita yang ditulis tidak hanya dibaca mahasiswa. Lewat media daring, masyarakat secara global pun bisa mengakses media persma.

“Pengembangannya berupa trans media. Artinya, media tidak saja berbentuk cetak, bentuknya dikembangkan pada  sosial media, radio, dan sebagainya,” tambah Eko yang kini sibuk berkecimpung dalam konsultan politik marketing di Jakarta.

Persma kini dituntut untuk mengabarkan informasi di masyarakat secara luas dan tidak hanya berhenti ‘dari dan untuk mahasiswa’ semata. Perkembangan teknologi dan strategi penyampaian informasi media yang dikelola oleh persma perlu mempertimbangkan dinamika di masyarakat tanpa harus memutus daya berpikir kritis mahasiswa.

Sejalan dengan tuntutan dari berubahnya pola dan cara pencarian informasi, Suharjono selaku Ketua AJI mengungkapkan bahwa dalam era digital ini begitu besar peluang persma untuk mengisi ruang informasi di masyarakat. “Melalui media online yang dikelola dengan baik disertai pemilihan konten yang tidak mengikuti arus media mainstream, persma justru akan menjadi pilihan masyarakat untuk mengakses informasi,” jelas Suharjono yang kini aktif sebagai pimred media Suara.Com. Ia menambahkan, semakin sedikit masyarakat yang mengakses informasi melalui media cetak karena masifnya pergerakan media online. Disinilah persma semestinya ikut mengambil tempat dan tidak hanya berhenti pada media cetak, “Tentu pengelolaan tampilan media online dan pemanfaatan media sosial untuk memperluas link juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar media dapat diakses secara luas oleh masyarakat,” ungkap Suharjono. (eff/hun/ain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.