Panitia Sekolah Advokasi berfoto bersama perwakilan Advokesma Universitas Airlangga. doc;kavling10
Panitia Sekolah Advokasi berfoto bersama perwakilan Advokesma Universitas Airlangga. doc;kavling10

Malang-KAV10. Ketidakhadiran perwakilan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) menimbulkan kekecewaan mahasiswa yang hadir pada acara Sekolah Advokasi yang digadang-gadang akan memuaskan mahasiswa dalam penyampaian aspirasi perihal UKT yang dianggap tidak sesuai sasaran  Sabtu (11/04) kemarin. Acara yang diselenggarakan oleh Eksekutif Mahasiswa Advokesma UB (EM UB) ini disambut baik oleh antusiasme mahasiswa yang mengharapkan ketransparansian keunangan mengenai UKT, beasiswa PPA dan BBP, Bidik Misi maupun SPP Progresif.

“Sebenarnya saya dan teman-teman cukup kecewa karena belum bisa bertanya langsung pada pihak Dikti,” ucap Aulia salah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer.

Terbatasnya waktu juga dapat dikatakan sebagai penyebab kekecewaan beberapa masiswa yang masih belum bisa menyampaikan aspirasinya pada pihak yang dianggap berwenang. Hanya beberapa mahasiswa yang beruntung ditunjuk untuk mengajukan pertanyaan. Namun kekecewaan mahasiswa yang hadir tidak mengurangi manfaat dari kegiatan ini. Salah satunya adalah tentang perhitungan penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada masing-masing mahasiswa dan faktor apa saja yang mempengaruhinya serta alasan diadakannya SPP Progresif. Selain itu, mahasiswa UB juga dapat mengetahui perbandingan sistem penempatan UKT yang diterapkan oleh Universitas Airlangga Surabaya dengan yang diterapkan di Universitas Brawijaya.

Kekecewaan perihal ketidakhadiran perwakilan Dikti ini tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa, namun juga Baihaqi selaku ketua pelaksana kegiatan ini. Mengingat perjuangan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Advokesma UB yang memberanikan diri untuk mengantar undangan langsung ke kantor Dikti di Jakarta.

“Disana kami disambut sangat baik oleh pihak Dikti, karena memang di mata mereka Universitas Brawijaya memiliki nilai yang sangat baik,” jelas Baihaqi sehari setelah kepulangannya dari Jakarta pada Jum’at 27 April kemarin.

Sambutan baik oleh pihak Dikti membuat para panitia kegiatan yakin bahwa acara ini akan semakin banyak membawa manfaat dan antusiasme mahasiswa ditambah dengan dibebaskannya pungutan biaya bagi mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini.

“Kemarin jam 5 sore, pihak Dikti menghubungi pihak rektorat untuk menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat menghadiri kegiatan ini dikarenakan ada undangan dari instansi lain, dan semua yang ingin disampaikan oleh Dikti sudah disampaikan oleh pemateri lainnya tadi,” ujar Baihaqi sesaat setelah kegiatan Sekolah Advokasi usai.

Meskipun demikian Advokesma UB patut bangga atas hasil jerih payahnya. Baihaqi menambahkan bahwa kurang lebih 900 mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini. Hal tersebut membuktikan bahwa acara ini sangatlah dinanti-nantikan oleh mahasiswa. Diharapkan acara ini akan semakin baik dan semakin memberikan banyak manfaat setiap tahunnya. (ika/miy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.