The Discobolus (diambil dari: psuvanguard.com)
The Discobolus (diambil dari: psuvanguard.com)

Itulah kereta senja, itulah jalanku menuju kebebasan.

Meskipun pria sepertiku tidak punya bakat menari, aku ingin menari sepanjang hari, sepanjang pekan, bahkan sepanjang waktu, aku ingin menari seumur hidupku. Menari dalam bentuk apapun, dalam gestur dan lekuk yang tidak terbatas. Aku ingin menari di sembarang tempat, di atas kasur, di dalam toilet, di bawah air, di tengah jalan, di puncak gunung everest bila perlu. Pokoknya aku ingin menari, dan menari butuh kebebasan. Untuk itulah aku akan keluar dari rumah ini, pergi dari segala kebrengsekan yang telah menelurkan kegelisahan dan aturan aturan sempit yang menjijikkan. Biarlah aku di kutuk menjadi patung oleh ibuku, di serapahi segala kebisingan ayahku yang sok parlente itu.

Betapa bangganya menjadi patung ketika sedang menari, dengan senyuman yang tidak mengada ngada, dengan mata yang berbinar binar. Yang jelas ketika aku berhasil di kutuk menjadi patung oleh ibuku, aku tidak akan berpose layaknya Soekarno-Hatta, dengan jas, serta pecinya yang mistik. Aku akan telanjang, semua orang akan melihat kemaluanku, bukankah begitu untuk orang yang sudah mati ? Alangkah indahnya kematian jika menjadi diri sendiri. Pukul lima sore ketika senja, keretaku tiba.

    ****

Di dalam kereta, semburat cahaya merah mega mega menembus kaca jendela. Aku melihat cakrawala menutup diri, barangkali itulah yang membuatku yakin, bahwa hidup tidak pernah sama, silih berganti. Tetapi senja bukan cuma soal perpindahan waktu, ia juga tentang persoalan kehidupan di dalamnya. Setiap kali senja, setiap itu pula aku mengingat nasib. Seperti kekata orang bijak, cuma dua hal yang sulit di tebak di dunia ini : Politik dan nasib.

“ Benarkah itu ? “

Menurutku manusia tetaplah paling sulit untuk di tebak. Dan jika membicarakan manusia orang tua ku lah yang paling awal tumbuh di kepalaku.

Kereta ini akan meluncur ke sebuah kota tak bernama. Sebuah kota tanpa gerutu dan siasat. Barangkali belum ada dongeng yang menceritakan tentang kota itu, dimana semua orang bisa bebas mencari kebahagaian.

Kebahagian seperti apa? bukankah kebahagian itu semu, sementara, tidak kekal, entahlah yang jelas untuk orang frustasi sepertiku kebahagian penting di cari meskipun hanya sesaat. Konon jika kereta mulai memasuki kota tersebut, malaikat akan tunggang langgang, tidak akan ada lagi yang menuliskan buku catatan perihal amal baik dan buruk, yang tersisa hanyalah iblis, bukankah harusnya begitu? Menari yang paling nikmat adalah menari bersama iblis.

    ****

Kereta ini semodel kereta uap, asapnya membumbung tinggi, derit roda besinya seolah pemalas, tetapi masih berjejalan dengan baik. Di luar kaca jendela, hanya terdapat gelap, hitam, kelam dan kereta pun akan tiba kapan entah.

Rupa rupanya banyak orang yang ingin memburu kebahagiaan di kota tak bernama, dengan terlihat penuhnya penumpang di setiap gerbong. Kereta ini pun bukan sembarang kereta , kereta ini hanya akan tiba setahun sekali, di akhir bulan desember di kala waktu senja. Tiketnya pun harus di pesan jauh jauh hari, bahkan tahunan, seperti layaknya berangkat haji.

    ****

“ Manusia memang sulit di tebak “
Seperti perempuan di depanku ini, ia duduk memeluk anjingnya yang selalu menjulurkan lidahnya yang panjang. Sekali waktu aku ingin berkenalan dengannya, sedikit merayu rayunya, barangkali ia akan bisa menjadi teman sepermainanku di kota tak bernama. Tetapi anjingnya terus menggonggong ke arahku. Ia tampak tidak senang dengan sikapku dan terus menatapku seperti musuhnya

“ Anjing sialan “ Batinku .
“Maafkan Patrick“ kata perempuan itu. “Dia adalah suamiku.“ Aku terkejut, lantas mereka berdua berciuman, saling melumat dan mengumbar kemesaraan di depanku.
Pernahkan kau menyaksikan hal seperti ini ? bayangkanlah wanita secantik layaknya Natalie Portman, lebih memilih besuamikan seekor anjing dari pada lelaki manusia . Betapa rendahnya seorang lelaki? apakah ia sudah muak dengan semua lelaki di dunia ini? Lelaki memang terlalu sering mengeluarkan anjing di dalam tubuhnya.

“ Kenapa kau menikahi Anjing “ Kataku .
“ Mendidik anjing lebih mudah dari pada mendidik lelaki “ Jawab perempuan itu .
Aku melihat orang orang di sekelilingku. Kiranya mereka adalah sekumpulan manusia yang tidak mendapat tempat di dunia untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan mereka yang membentuk dirinya menjadi seperti itu, tetapi lingkungan dan pergaulannya yang keparat. Untuk itulah mereka menuju kota tak bernama, mencari ketenangan, pengakuan, kebebasan, sepertiku.
“ Zaman memang benar benar edan.“ Batinku untuk kedua kalinya.

Di pintu gerbong, aku menyalakan kretek, harga tembakau memang sedikit mahal, akhir akhir ini memang seperti ada upaya memperlemah penghasilan petani tembakau oleh pemerintah. Lihat saja di setiap bungkus rokok, banyak gambar lebay terpampang di penutupnya. Aku tidak terlalu mengerti soal kedokteran, apalagi intrik politik, yang jelas tembakau di negeri ini lebih nikmat dari pada tembakau dari belahan bumi manapun juga.

“ Jadi apa yang membuatmu memutuskan pergi ke kota tak bernama “ Kataku kepada seorang lelaki yang juga merokok di sebelahku .
“ Burungku tidak bisa berdiri , Apa yang bisa di harapkan dari lelaki yang burungnya tidak bisa berdiri?“
Eladalah “ Aku hampir tersedak asap rokok mendengarnya.
“ Aku sudah protes kepada Tuhan, kenapa Ia musti memilihku, tapi barangkali tuhan hanyalah ciptaan manusia belaka yang berfikir bahwa Tuhan itu ada.“

Jadi sepertinya lelaki ini sudah tidak lagi percaya pada Tuhan. Ia seperti tampak putus asa dengan burungnya, betapa sangat menyedihkannya seorang lelaki yang burungnya tidak bisa berdiri, ia hanya akan dapat mencitai kekasihnya tanpa dapat memuaskannya. Bukankah inti kenikamatan dunia itu terdapat pada dua organ: Mata dan kemalauan.
Kereta belum juga tiba di stasuin kota tak bernama .

“ Perjalanan masih panjang , sekitar tiga jam lagi “ Kata lelaki yang burungnya tidak bisa berdiri itu .

    ****

Di dalam perjalanan itu aku mulai merenung, berpikir pikir tentang hidupku yang kadangkala lebih baik dari pada dua orang itu. Hanya mungkin nasiblah yang tidak jauh berbeda. Uang bukanlah hal sulit bagi kedua orang tuaku, tapi uang tidak bisa membeli kebahagian dan melunasi kebodohan. Ayahku adalah seorang doktor yang menurutku cara berfikirnya tidak lebih baik dari pada tukang becak dan kuli bangunan, tetapi ia telah melakukan segala hal untuk mencukupi keluargaku dan terutama ibuku yang cukup brengsek, begitulah sebagain perempuan, obesesinya hanya uang dan anak, jika saja uangnya lebih banyak dari pada suaminya ia bakal tidak membutuhkan lagi lelaki seperti ayahku.

Aku tumbuh di tengah keluarga akademisi, banyak gelar membuntut di belakang nama nama mereka, seperti juga beberapa kakakku, salah satu diantara mereka bahkan ada yang jadi politisi, sudah berapa saja ia dapat suap dan ongkang ongkang bersama sanaknya ke luar negeri dari hasil gelapnya. Tapi itu juga tak cukup membuat mereka menjadi bahagia.

Sementara demikinalah lelaki sepertiku yang selalu ingin mengembara layaknya koboi Old Shatterhand, yang bisa saja berlagak seolah olah telah menemukan benua Amerika seperti Cristopher Colombus. Yang perlu kau ketahui aku tidak suka sekolah apalagi kuliah, aku suka belajar tapi tidak suka di dalam ruangan, bahkan aku lebih suka membaca bermacam macam buku dari pada mencuci baju. Begitulah tabiat lelaki yang bermimpi menjadi seorang penyair, yang kapanpun dapat di culik, di tembak mati, di hapuskan dari sejarah jika telah bebicara soal Politik, Presiden, Menteri, Politisi, Direktur. Begitulah menurutku, diantara sepsies penulis penyair adalah mahkluk yang paling berbahaya, mungkin karena Penyair menguasai kata kata dan kata kata adalah senjata paling berbahaya. Untuk itulah aku ingin mencari kebebasan, dari segala belenggu seorang ayah yang absen mengerti anaknya, yang menuntutku menjadi seperti dirinya, hanya seperti dirinya.

Peluit kereta berbunyi, sebentar lagi akan tiba di stasiun kota tak bernama, aku sangat berbahagia, juga orang orang dalam kereta, mereka bertepuk tangan seolah bersiap menuju puncak kemenangan yang di depan mata. Setibanya di kota itu aku akan menari di sembarang tempat tanpa usah khawatir seorangpun menegurku, melarangku atas segala sesuatu yang akan ku lakukan. Aku telah meneteng tas tapi masih sangat ragu. Kuingat ingat syair Gibran agar aku tidak merasa bersalah kepada orang tuaku, ku bacakan pelan pelan, begini:

Anakmu bukanlah anakmu mereka adalah putra putri kehidupan terhadap dirinya sendiri Mereka terlahir lewat dirimu namun tidak berasal dari dirimu Dan meskipun mereka bersamamu mereka bukan milikmu kau boleh memberikan mereka cintamu tetapi bukan pikiranmu sebab mereka memiliki pikiran sendiri Kau bisa memelihara tubuh mereka namun bukan jiwa mereka Sebab jiwa mereka tinggal di rumah masa depan , yang tak bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu.

    ****

Setelah dua tahun berlalu, rasa rasanya aku sangat bosan bersenang senang, tidak ada sesuatu hal yang menantang untuk di lakukan. Tidak enak juga hidup tidak memiliki masalah, bukankah bagi seorang penyair ia harus merasakan luka bila ingin menuliskan luka dan harus merasakan rindu jika ingin menuliskan rindu. Diam diam aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Tidak ada satu hal pun yang dapat aku lakukan selain menunggu ibuku benar benar mengutukku menjadi patung.

“ Kau tidak akan pernah bisa pergi ke kota manapun setelah tiba di kota tak bernama , kau dapat datang ke kota ini setahun sekali tapi jangan berfikir untuk bisa kembali.“ Kata pematung yang meluruskan letak kemaluanku itu.

Surabaya – 13/02/2015 .

* Awak Kavlling 10, mengidolakan Seno Gumira Ajidharma, Agus Noor, dan lain sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.