Malang-Kav.10. Walau berkuliah di Kediri, mahasiswa disini tak perlu pergi ke Malang untuk memilih Presiden EM dan DPM UB periode 2015/2016. Jam tiga pagi, 14 panitia dari Malang berangkat dengan membawa logistik pencoblosan. Terhitung 436 mahasiswa menggunakan hak pilihnya dari total mahasiswa sekitar 1200, Rabu (10/12).

Jam dua belas lebih empat puluh siang, Virgi Ayukandika, mahasiswa Administrasi Bisnis, menuju ruang UPD 31. Dia terlambat sepuluh menit mengikuti perkuliahan. Namun, di ruang ini bukan perkuliahan yang diikutinya. Dia malah menunggu giliran mencoblos. Kebetulan saja, dosennya belum datang. Virgi tak mau melewatkan kesempatan ini.

Beberapa temannya pun turut mengantri masuk. Tas dititipkan kepada panitia yang menjaga pintu masuk. Tak ketinggalan, para panitia dengan cermat mengamati setiap mahasiswa. Jangan sampai mereka membawa ponsel pintar ke dalam TPS.

Bukan Virgi dan kawan-kawan saja yang antusias. Mahasiswa yang sedang kuliah tepat di sebelah TPS pun demikian. Usai perkuliahan mereka berbondong-bondong memasuki TPS. “Ayo, titipkan dulu tasnya,” seru Rifky Awwalansyah, Presiden Eksekutif Keluarga Mahasiswa (EKM) UB Kampus IV, mengajak para mahasiswa untuk menggunakan hak pilihnya.

Namun, selang beberapa menit kemudian, suasana mendadak sepi. Hanya satu-dua mahasiswa yang masuk ke dalam TPS. Tersisa dua setengah jam lagi menuju waktu tutup TPS pukul 16.20. Sepinya TPS bak gambaran sepinya pemilih. Afifah, panitia yang datang dari Malang, menyebutkan, tak sampai setengah mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya.

Sejak TPS dibuka pukul 08.20, beberapa mahasiswa harus menahan nafas karena tak bisa menggunakan hak pilihnya. Agar bisa mencoblos, pertama kali mereka menyerahkan KTM kepada panitia. Sayang, sebagian dari mereka kehilangan KTM atau masih ditahan pihak perpustakaan.

Mengantisipasinya, mahasiswa bisa menunjukkan Surat Keteragan Mahasiswa Aktif. Apa daya, surat ini hanya bisa diurus di kampus pusat Malang saja. Tak banyak waktu mahasiswa pergi ke Malang mengurusnya. Bila keduanya tak bisa dipenuhi, pilihan lain, kata Afifah, mahasiswa bisa menyerahkan Surat Tanda Terima Laporan Kehilangan dari kepolisian.

Sama-sama beralmamater Brawijaya, jarak antara Kediri dan Malang tak boleh menyekat para mahasiswa. “Teman-teman yang terpilih nanti harus punya komitmen untuk memperbaiki UB Kediri. Jangan setelah kampanye lenyap begitu saja, jarang kesini. Jangan pula UB Kediri ini menjadi lumbung suara saja,” ungkap Diki Anjasmoro Putro, mahasiswa UB Kampus IV Kediri, kepada Kavling 10,usai menggunakan hak pilihnya.(eff)

Tiga mahasiswa cantik Ub Kediri eksis setelah melakukan pencoblosan (10/12) Dok.Efrem
Tiga mahasiswa cantik Ub Kediri eksis setelah melakukan pencoblosan (10/12) Dok.Efrem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.