Mahasiswa memberikan pisang kepada pengendara saat aksi di Bundaran UB. (Dok. Efrem)
Mahasiswa memberikan pisang kepada pengendara saat aksi di Bundaran UB. (Dok. Efrem)

MALANG.KAV-10. Pertanian Indonesia belum siap menghadapi Asean Economic Commmunity (AEC) 2015. Reza Adi Pratama, Presiden BEM Fakultas Pertanian UB, mengungkapakan, pemerintah perlu mengevaluasi pertanian Indonesia.

Alasan ini, menurutnya, mengacu pada pendapatan petani yang masih berada di bawah rata-rata. Budaya masyarakat Indonesia masih tergantung kepada produk-produk luar. Padahal, beras nasional merupakan beras terbaik setelah Thailand. “Jumlah penduduk yang banyak membuat kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi, sehingga perlu untuk mengimpor,” katanya.

Sebagai mahasiswa, tanggung jawab terhadap pertanian tidak hanya mengandalkan mahasiswa pertanian saja. Seluruh fakultas juga memiliki tanggung jawab yang sama. “Ini persoalan hidup mati bangsa,” kata Reza lagi.

Oleh karena itu, Hari Tani Nasional yang jatuh pada Rabu, (24/9), membuat BEM Fakultas Pertanian, BEM Fakultas Ilmu Administrasi, Eksekutif Mahasiswa UB, menggelar aksi di Bundaran UB. Aksi dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap ketidaksiapan Indonesia menghadapi AEC 2015.

Mereka yang beraksi menilai pemerintah belum memberi energi daya saing di sektor Pertanian. Tampak dalam aksi, sejumlah mahasiswa membagikan pisang kepada para pengendara yang lewat. “Ini bentuk promosi produk lokal kita,” kata Reza.

Aksi lain juga dilakukan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Berlokasi di gedung FTP, mereka mengumpulkan tanda tangan mahasiswa, dosen, dan dekanat FTP. “Kita juga mengingatkan mereka tentang Hari Tani yang jatuh hari ini,” ungkap Agus Setya Pambudi, Koordinator Aksi di FTP. (mua/eff)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.