Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia

Sumber: Google Image 2014
Sumber: Google Image 2014

Oleh : Antonius Yudda

Judul : Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia

Editor : Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia; KITLV-Jakarta

Jumlah Halaman : 446

Tahun Terbit : 2008

Sejarah merupakan salah satu fondasi dasar yang membentuk wawasan fundamental seseorang, dalam konteks yang dimaksud disini adalah bangsa, rakyat. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mengingat sejarah bangsa nya sendiri. Ketika berbicara mengenai sejarah tentu tidak bisa hanya melihat pada satu sumber, sejarah jika dipersonifikasikan layaknya sebuah bola yang bundar, dapat dilihat dari berbagai sisi, berbagai perspektif.

Sama halnya dengan sejarah yang memiliki berbagai sumber dan perspektif yang ragam, berbagai sumber yang menghasilkan berbagai literatur. Salah satunya adalah literatur baru yang berjudul “Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia” yang ditulis oleh banyak peneliti dan sejarawan, baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Setelah peristiwa Gestapu (Gerakan Tiga Puluh September) dan berakhirnya orde lama yang dipimpin oleh sang proklamator, Sukarno, sejarah Indonesia telah berubah 180 derajat. Indonesia yang kita kenal sejak saat itu bukan lah Indonesia yang ‘sebenarnya’. Berbeda dari apa yang ditanamkan pada orang tua kita dahulu dengan generasi kini yang sesungguhnya tidak mengenal bangsanya sendiri.

Dengan naik nya Soeharto ke tahta tertinggi pemerintahan Indonesia, dikenal kemudian dengan apa yang disebut dengan pembunuhan karakter, de-historisasi, dan militerisasi sejarah Indonesia. Buku ini berisi tulisan-tulisan yang juga berisi data yang disertai dengan penelitian bertahun-tahun dengan kumpulan data dari KITLV Jakarta (Koninklijk Instituut voor Taal,- Land- en Volkenkunde), yakni lembaga penelitian ilmuwan Belanda di Indonesia yang sudah hampir 3 abad lamanya meneliti Indonesia, dalam hal ini adalah sejarah. Untuk pertama kali nya dalam sejarah pendidikan Indonesia baru ada literatur yang berisi kumpulan tulisan mengenai ‘lembaran-lembaran’ sejarah yang hilang dari Indonesia. Berisi tentang kajian-kajian mengenai hal-hal yang dahulu dilarang dan dianggap tabu pada rezim orde baru seperti komunisme, Tan Malaka, dan berbagai subjek yang dicap ‘hitam’ saat itu.

Seperti yang kita ketahui bahwa penulisan sejarah Indonesia pada saat orde baru benar-benar sebuah sejarah yang semu, a corrupted version of the history. Mengacu pada pembunuhan karakter-karakter yang merupakan orang-orang kiri dahulu seperti Dipa Nusantara Aidit, Tan Malaka, dan Pramoedya Anananta Toer. Orang-orang yang dianggap berbahaya seperti yang disebutkan diatas merupakan individu-individu yang intelektualistis, visionaris, dan revolusioner; sehingga pada saat itu orang-orang yang ‘berbahaya’ seperti ini dianggap ancaman bagi bangsa sendiri, menurut Suharto dan kolega-kolega nya yang berhasil membuat jutaan penduduk Indonesia mengalami apa yang disebut dengan kecelakaan berfikir selama hampir 40 tahun. Barulah pasca reformasi, runtuhnya rezim orde baru dan Suharto, orang-orang mulai angkat bicara mempertanyakan orisinalitas sejarah bangsanya sendiri.

Tak bisa dipungkiri pula bahwa Abdul Harris Nasution mempunyai dosa besar dalam merangkai sejarah Indonesia pasca peristiwa Gestapu, yakni melakukan militerisasi sejarah Indonesia yang mencakup tiga poin penting yakni de-sukarnoisasi, pengangkatan jenderal korban peristiwa Gestapu menjadi pahlawan Revolusi serta membuat hari kesaktian pancasila, dan menjadikan tokoh militer sebagai pahlawan besar dalam sejarah Indonesia. Bahwa perlu diketahui pula Nasution merupakan lawan ideologis dari tokoh-tokoh kiri pada tahun 1950-an seperti Tan Malaka dan Aidit. Tahun 1950-an merupakan era penting dalam perkembangan sejarah Indonesia sebab pada masa itu berkembang ideologi besar dan pergolakan ideologi yang menentukan jalan Indonesia yang sedang berkecamuk ditengah-tengah perang dingin, diantara blok barat dan blok kiri.

Menjadikan sosok seperti Pram menjadi sosok yang ditabukan pun menjadi salah satu hal yang disesalkan hingga saat ini walau sudah tidak dilarang untuk membaca buku karangan beliau. Hanya karena keterkaitan Pram dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dikenal berafiliasi dengan PKI maka Pram yang dikenal ahli dalam propaganda yang juga tidak terlalu pro dengan Suharto saat itu pun sempat menjadi tahanan politik Suharto. Alhasil beliau diasingkan ke Pulau Buru bersama dengan ratusan tahanan politik lainnya, dimana disana beliau menghasilkan sebuah mahakarya yang bernama tetralogi pulau buru yang berisikan empat seri buku karangan Pram yang sudah mendunia yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Sejarah yang dikemas dalam bentuk sastra roman ini merupakan sebuah pembenaran akan sejarah Indonesia dari perspektif seorang sastrawan dan cendekiawan ini.

Buku ini juga berisi berbagai tulisan lain mengenai kajian-kajian yang di bumi hanguskan dari kurikulum pendidikan Indonesia. Sangat direkomendasikan untuk semua kalangan bagi bangsa yang ingin mengenal orisinalitas bangsanya sendiri. Bahasa yang disajikan pun mudah untuk dimengerti, satu-satunya kelemahan buku ini adalah kurangnya ilustrasi ataupun foto dari peristiwa yang dikaji hingga fakta terkini yang sedikit kurang up-to-date. Kesimpulan akhir, buku ini dipercaya dapat menggugah kembali selera membaca masyarakat dan sebuah terobosan terbaru dalam sejarah Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.