Salah seorang pemain Kuda Lumping sedang menunjukan atraksinya. (foto: Ulil)

MALANG-KAV.10 Paguyuban Tari Kuda Lumping Merjosari Malang pada sabtu tengah malam (5/4) di lapangan Merjosari menggelar pentas tari Kuda Lumping. Pentas ini diadakan untuk menghibur masyarakat Merjosari dan dalam acara tersebut paguyuban Kuda Lumping menampilkan beberapa tarian mulai dari tarian senterewe, rampong barongan dan celengan.

Kesenian kuda lumping semula dikenal sebagai kesenian Jathilan yang selanjutnya dikenal dengan (kuda) jaran kepang. Kuda lumping menjadi nama yang lebih populer dibandingkan dengan kedua nama sebelumnya. Nama “kuda lumping” bukan saja dikenal di Jawa Tengah, melainkan sudah secara nasional pungkas Iwan sang sutradara.

Menurut keterangan dia tarian ini tidak mempunyai ritual khusus dalam penampilannya, namun dari tempat kejadian nampak sang pelakon seperti orang kesurupan entah hal apa yang bisa membuat para pemainnya ini seperti itu. Dilihat dari cara permainannya, para penari kuda lumping seperti mempunyai kekuatan maha besar, bahkan terk esan memiliki kekuatan supranatural. Kesenian tari yang menggunakan kuda bohong-bohongan terbuat dari anyaman bambu serta diiringi oleh musik gamelan seperti; gong, kenong, kendang dan slompret, ternyata hal tersebut mampu membuat para penonton terkesima oleh setiap atraksi-atraksi penari kuda lumping.

Bunyi sebuah pecutan (cambuk) besar yang sengaja dikenakan para pemain kesenian ini, menjadi awal permainan dan masuknya kekuatan mistis yang bisa menghilangkan kesadaran si-pemain. Dengan menaiki kuda dari anyaman bambu tersebut, penunggan kuda yang pergelangan kakinya diberi kerincingan ini pun mulai berjingkrak-jingkrak, melompat-lompat hingga berguling-guling di tanah. Selain melompat-lompat, penari kuda lumping pun melakukan atraksi lainnya, seperti memakan beling dan mengupas sabut kelapa dengan giginya.

Dipertengahan dan menjelang acara tersebut selesai baik sang pemain dan penonton pada kesurupan dan kesurupannya tersebut tidak wajar karena pada saat kesurupan ada yang berjalan seperti kalajengking, melet seperti ular dan mengeruk-ngeruk tanah, ada juga yang mencium tanah, bahkan lebih anehnya lagi salah satu penari tersebut  yang kesurupan menelan telur yang masih utuh lalu dipecahnya didalam mulut dan isinya tersebut ditelannya mentah-mentah, setelah dikonfirmasi ternyata sang penari kesurupan dikarenakan hal tersebut bagian dari penampilan tarian, untuk penonton yang kesurupan penyebabnya adalah adanya aliran ion negatif yang menyambung antara sang penari dan penonton yang ikut juga dalam paguyuban kuda lumping di luar Merjosari. (mua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.