“Hormatilah musuhmu, karena Ia tahu segala kelemahan-kelemahanmu”

Sumber : Google Images 2013
Sumber : Google Images 2013

Oleh Alvinia Yuliareza Gutomo*

Soekarno merupakan sosok presiden yang selalu diingat perjuangannya demi merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Bukan hanya bijaksana dalam mengambil segala tindakan, Soekarno juga dikenal ramah pada rakyatnya. Hal ini terbukti dengan difilmkannya presiden pertama Indonesia ini.

Sang sutradara Hanung Bramantyo memilih Ario Bayu untuk memerankan sosok Soekarno ini. Aktor berpengalaman, Lukman Sardi, juga dipilih untuk memerankan wakil presiden pertama, Moh. Hatta. Film yang diproduseri oleh Raam Punjabi ini dirilis pada tanggal 11 Desember 2013 kemarin.

Cerita berawal dari bocah kurus, sakit-sakitan bernama Kusno yang kemudian beralih nama menjadi Soekarno dengan harapan kelak, Ia bisa menjadi ksatria yang kuat seperti Adipati Karno. Saat dewasa, Soekarno menjadi pemuda yang aktif dan mengguncang podium politik. Namun, karena keberaniannya, Soekarno dituduh Belanda, yang saat itu menjajah Indonesia, sebagai pemberontak layaknya komunis. Ia dibuang ke Ende, kemudian ke Bengkulu. Di Bengkulu inilah, Soekarno menjadi guru di sebuah sekolah lalu jatuh cinta pada muridnya bernama Fatmawati. Konflik muncul ketika Soekarno memutuskan untuk menikahi Fatmawati, padahal saat itu Ia telah mempunyai istri Inggit Garnasih. Soekarno semakin gundah disamping kemelut rumah tangganya, Jepang datang memulai peperangan Asia Timur Raya. Belanda takluk oleh Jepang. Sesuatu yang dulu dianggap raksasa bagi Soekarno, kini lenyap. Kemerdekaan Indonesia seolah di ambang mata. Soekarno ingat kalimat yang selalu Ia pegang, kalimat yang pernah dikatakan Cokroaminoto saat Ia masih muda, kalimat yang membuat Soekarno terbakar untuk mewujudkan mimpinya, “Manusia itu sama misteriusnya dengan alam, tapi jika kau bisa menggenggam hatinya, mereka akan mengikutimu“.

Film berdurasi 137 menit ini mampu membuat penonton hanyut dalam semangat yang dihidupkan Ario Bayu serta pahlawan Indonesia lainnya. Efek yang terkesan “kuno” mampu membawa penonton melihat kejadian lampau yang sekarang telah menjadi sejarah. Sayangnya, jika dilihat dari sejarah kemerdekaan Indonesia, dalam film ini tidak ditampilkan seutuhnya, bahkan yang ditampilkan pun hanya berupa potongan-potongan yang dijadikan satu sehingga membentuk sebuah film. Hal ini tentunya membuat penonton bingung dalam mengambil suatu pembelajaran sejarah. Ditambah lagi sisi kehidupan percintaan Soekarno-lah yang lebih ditonjolkan dari pada perjuangan dalam merebut kemerdekaan film ini.

*anggotaLPM Kavling 10 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.