Ada Selisih Surat Suara, Massa di TPS FH Ricuh

Foto. Suasana saat terjadi keributan di TPS FH (foto oleh Aulia Nabila)
Foto. Suasana saat terjadi keributan di TPS FH
(foto oleh Aulia Nabila)

MALANG – KAV.10  Proses pemunggutan suara Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) 2013 di Fakultas Hukum, Rabu (11/12) sempat terjadi kericuhan. Kericuhan terjadi ketika Tempat Pemunggutan Suara (TPS) di FH telah ditutup pada pukul 18.00 WIB.

Menurut Ria Dina Islami, Panitia Pengawas (Panwas) untuk TPS FH, kericuhan terjadi ketika tim sukses dari salah satu calon DPM meminta supaya kotak suara dibuka dan surat suara yang terpakai segera dihitung saat itu juga, karena adanya selisih antara surat suara dan jumlah pemilih, padahal Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada tidak mengizinkan hal tersebut. “Mereka nggak terima karena walaupun (kotak suara) disegel, ternyata terjadi selisih suara,” tuturnya. Massa pada saat itu berteriak-teriak menuntut kepada panitia untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut, bahkan hampir terjadi baku hantam, namun berhasil diatasi.

Ria menambahkan, pihak panitia sampai akhir tetap berpegang pada aturan yang ada dan tetap tidak membuka kotak suara sampai waktu perhitungan. “Kami inginnya juga memberikan pengertian, namun mungkin karena (massa) emosi juga. Jadi solusinya tetap kita jalankan seperti aturan,” tuturnya.

Menurut Jordan Muhammad, Koordinator Panitia Lokal (Panlok) FH, keributan ini memang berawal dari permasalahan logistik, yaitu adanya selisih antara jumlah surat suara yang telah terpakai dengan jumlah mahasiswa yang menggunakan hak suaranya, ketika dihitung dari sisa surat suara yang ada. “Jumlah yang ada di daftar mahasiswa aktif itu ada 2400, dan yang menggunakan hak suara hanya 643 orang. Namun, surat suara yang ada dari DPM itu berjumlah 645, berarti ada kelebihan 2 surat suara,” tutur Jordan.

Menurut Jordan, pihak panitia yakin dengan jumlah mahasiswa yang menggunakan hak suara tersebut. Ia yakin, ketika nanti kotak suara itu dibuka, jumlahnya akan pas.

Menanggapi keributan yang sempat terjadi, menurut Jordan hal tersebut adalah wajar. “Kita harus lebih dewasa menyikapinya, karena ketika entah dua suara atau berapapun itu tidak terlalu mempengaruhi dan bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat, maka bisa selesai,” ujarnya. Jordan juga menjamin bahwa tidak terlihat indikasi kecurangan selama Pemira berlangsung dan panitia sudah bekerja dengan sangat netral.

Baik pihak Panwas dan Panlok sudah mengantisipasi kejadian ini dengan memplotting kapan waktu-waktu yang krusial di Pemira. “Sepuluh menit sebelum selesai, kami langsung menghubungi orang-orang kemahasiswaan (FH), mengumpulkan semua panitia, komunikasi dengan saksi dan DPM,” tambah Jordan. (aya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.