Oleh Syarifah Lulu*

Gadis itu kutaksir usianya tak jauh denganku, mungkin sebaya. Masih dalam balutan seragamnya, dia melayani banyak pembeli es teh manis yang merk-nya memang di-franchise-kan, tanpa lelah, tanpa bosan. Terlihat dari semburat wajahnya yang ceria, senyumnya yang indah, dan sinar matanya yang tak layu, tak sayu. Entah sejak kapan, mungkin dari hari pertama kios itu berdiri, aku selalu menyempatkan berjalan melewati depan kios franchise tersebut walaupun memutar agak lebih jauh dari tempat ku tinggal, namun jarang sekali aku membeli sesuatu di kios tersebut. Tujuanku hanya satu, yaitu memandangnya.

Sudah hampir satu tahun kios tersebut berdiri, namun aku masih belum juga berani untuk sekedar mengobrol dengannya. Paling-paling hanya sebatas interaksi penjual dan pembeli. Sering aku melihat dan menguping, ternyata banyak juga pedagang-pedagang lain yang suka menggodanya, tak jarang rayuan genit kampung dari mulut mereka keluar menuju gadis tersebut. Jangankan pedagang-pedagang lain, banyak pembeli-yang kebanyakan mahasiswa pun sering seperti itu. Tapi dengan lembut, dengan tenang, dia hanya tersenyum. Tentu saja aku panas mendengarnya. Olala, apa ini? Aku cemburu? Dengan siapa? Mengapa?

Pagi itu, namun matahari sudah agak naik setengah, aku sempatkan ke kios tersebut. Bukan untuk melewatinya, bukan hanya untuk memandangnya, tapi untuk membeli. Kulihat dia dengan cekatan melayani banyaknya pembeli. Lagi, kudengar salah seorang pembeli yang kurasa adalah mahasiswa mencoba untuk merayunya. Tetap sama, seperti kemarin, seperti hari-hari sebelumnya, dia hanya tersenyum  kecil penuh keanggunan. Kemudian tiba giliranku, aku sodorkan lembaran dua ribuan, tanpa sadar, dari tadi aku tersenyum menyaksikan geraknya. Kali ini ada yang berbeda, ada dua untai gelang di pergelangan tangan kirinya, yang satu aku pernah melihatnya, dia sering memakainya, namun  yang satu lagi? Apakah mungkin itu pemberian seorang lelaki? Ah, rupanya aku cemburu lagi. Tapi dengan siapa? Mengapa?

Gadis itu terlihat manis dalam hijau-hitam seragamnya, celana jeans yang hitam, sepatu selop sederhana yang putih, kerudungnya yang hitam, membalut tubuhnya yang kurus langsing dan tinggi rata dengan alisku. Kulitnya putih, matanya bening, ada tahi lalat tipis di ujung hidungnya, dan satu lagi yang kurang aku suka, yaitu kawat di giginya. Namun secara keseluruhan ditambah dengan sifatnya yang periang tetap membuat aku tak lelah untuk tersenyum waktu memandangnya. Bahasanya ramah, tak jarang ia melemparkan senyum kepada pedagang dan pembeli yang genit ketika pagi-pagi ia datang ke kiosnya. Namun pagi ini dia terlihat agak beda, terlihat tidak seperti biasanya. Terlihat sekali ada sesuatu yang diendapkan di dalam wajah riangnya itu. Ada apa? Apa mungkin karena seorang lelaki lain? Seperti biasa, aku cemburu lagi. Tapi dengan siapa lagi? Mengapa?

Penuh keheranan dan tanda tanya besar, aku pun beranjak dari kios tersebut. Langkahku penuh ragu, ingin sekali rasanya untuk menyapa, menanyakan kabar, atau apa saja yang mampu membuatnya melupakan kelainan yang tersirat di riang wajahnya itu. Namun, aku terlalu pemalu, bahkan untuk ukuran lelaki yang gondrong rambutnya. Banyak orang mengira rambut gondrong ialah urakan, tak punya malu, dan lain lain. Tapi tidak denganku. Dengan ragu, sesal, dan juga malu yang masih sisa, aku tinggalkan kios tersebut, meninggalkan dirinya, ceria tingkahnya. Di dalam langkah yang sedikit-sedikit, aku berpikiran ke sana sini, tentang kelainan di pagi ini. Tentang riang wajahnya yang tak segar, dan anggun senyumnya yang sayu. Adakah lelaki di balik semburat kelainan di wajahnya? Sudah pasti, aku cemburu lagi. Dengan siapa? Mengapa?

Keesokan harinya, aku mendadak ada keperluan di pagi hari, yang tidak menyempatkanku untuk sarapan, atau sekedar minum kopi. Aku pagi ini sengaja tidak melewati kios tersebut karena sudah terlambat. Aku juga tak sempat melihat sosoknya yang manis di pagi ini. Di tengah langkahku yang cepat, jantung yang berdegup, nafas yang tersengal. Aku berpikir, adakah dia melihatku? Adakah dia cemburu denganku? Ah sudahlah, pokoknya nanti pulang aku harus ke sana. Benar saja, tidak sampai satu jam urusanku sudah selesai. Aku berniat makan di jalan, tapi kuurungkan, mengingat tanggal satu masih minggu depan. Lalu kuputuskan untuk mengganjal perut. Dengan pasti aku melangkah ke kios tersebut, membeli susu segar seharga tiga ribu lima ratus, sebenarnya aku bisa membeli gorengan dan minum air putih di tempat tinggalku. Namun entah mengapa, aku selalu suka berjalan ke arah kiosnya. Saat aku datang dan memesan, dia tertawa kecil, pikirnya tumben sekali aku beli susu, beli teh yang paling murah saja jarang. Lalu aku membalasnya dengan senyum malu-malu. Dengan malu yang memuncak, aku segera berjalan pulang. Malu karena dia memperhatikanku? Atau malu karena baju dan celana jeans yang kupakai ini sudah seminggu lamanya belum kuganti? Ah entahlah, pagi ini aku gembira, karena dia ternyata diam-diam memperhatikanku, memperhatikan kebiasaan membeliku, atau kebiasaan berpakaianku. Hari ini cerah. Penuh malu. Namun tak ada cemburu.

Pagi ini ya hari ini, beda dengan esok hari. Benar saja, esok hari, aku tidak ada kegiatan. Aku sengaja duduk-duduk di sebuah taman dekat kiosnya. Dengan celana jeans panjang yang menjadi pendek karena kupotong se-lutut, rambut gondrong yang tergerai begitu saja, kaos oblong warna putih kusam, tas punggung yang sudah robek sana sini, dan satu untai gelang di pergelangan tangan kiriku, aku berpura-pura menunggu teman untuk pergi. Tetap, satu tujuanku, memandang indah tingkahnya. Lalu kemudian kukeluarkan dari tasku selembar kertas dan papan, pulpen, dan juga pensil. Perlahan, aku mencoba melukis diorama tentang taman, pedagang lain, dan tentu saja kios itu. Susah payah aku membuat sketsanya. Bosan, kukeluarkan kertas selembar lagi. Kali ini kulukis indah senyumnya. Hanya leher sampai kepalanya. Tidak sampai setengah jam, lukisan itu selesai. Tidak bagus memang, tapi ya hitung-hitung sebagai alasanku duduk di situ. Di bawah gambar indah wajahnya, kutuliskan berbait puisi, mirip sajak, namun cukup di kertas itu. Hari ini dia terlihat ceria lagi, seperti tidak ada yang ditutup-tutupinya, segar matanya tak menyorotkan suatu kesayuan pun. Aku turut senang. Namun, olala, apa itu? Di pergelangan tangan kanannya terlihat jam tangan cokelat tua, terlihat kuno, tapi manis jika dipakainya. Aku kalut, pikiranku ke sana sini. Mungkinkah itu pemberian lelaki lain? Apakah itu penyebab keceriaannya di pagi ini? Adakah lelaki lain yang cemburu juga karena melihatku cemburu karenanya? Ah sial, di tengah bunyi nyaring tenggeret di dahan pohon seberang kiosnya, aku cemburu lagi. Sakit hati. Namun dengan siapa? Mengapa?

***

Dapatkah kau ijinkan aku? Untuk sejenak saja menyapamu, memberikan gelang dan jam tangan yang sengaja kubeli untukmu.

 Atau memperlihatkan cantik wajahmu di atas kertas yang kupegang ini, sambil membaca pelan berbait sajak yang kuciptakan.

 Atau melirik cantik senyummu dari dekat, memandang bola matamu dari dekat, dan mendengar desah nafasmu dari dekat.

Atau mungkin, kau bisa ijinkan aku untuk sebentar mengucapkan terima kasih, atas inspirasi, keindahan, dan kecemburuan.

 

*Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UB 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.