Oleh : Veli Prahasta

Kita mengejar tuhan di kotak televisi. Mencarinya, satu per satu di tiap saluran dan gelombang yang ada. Yang kita temukan adalah film kacangan tentang bagaimana dosa dibalas dengan kubur yang terbakar, terbelah. Lalu program acara yang dipandu seorang wanita bergincu dengan kerudung lapis sepuluh atawa laki-laki yang berteriak tentang kebajikan dengan sorban berkibar. Setelah itu iklan pariwara. Lotion pemutih kulit dan pameran paha putih.

Lalu kita berahi. Menggagahi diri kita sendiri.

Kita mengejar tuhan di kotak televisi. Menonton dan mendengarkan lagu-lagu rohani dari penyanyi rohani musiman. Dan kita tak akan peduli tentang tuhan mana yang ia sembah. Memuja dan menghafal syairnya, lupa pada kitab dan teks suci yang tersudut debu di bubungan atap rumah. Dan kita menyanyi lagi, sambil membayangkan si penyanyi menemani kita, memeluk mesra kita. Bahkan melamunkan mengawininya.

Lalu kita berahi. Menggagahi diri kita sendiri.

Kita mengejar tuhan di kotak televisi. Menontonnya dari sekelompok orang yang berorasi menuntut sesuatu. Dan mencarinya dari sinetron-sinetron penuh aktris bercelana ketat, wara-wari dengan senyum merekah hijau.

Lalu kita berahi . Menggagahi diri kita sendiri.

Kita mengeja rtuhan di kotak televisi. Berharap, mendengar suara keadilannya dari kerongkongan politisi. Mimpi. Iklan-iklan palsu. Kemudian kita lupa sberdoa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.