Oleh: Gibran*

Beberapa saat setelah pengumuman Uang Kuliah Tunggal (UKT) lalu, jejaring sosial diramaikan para mahasiswa Universitas Brawijaya yang mengomentari status salah satu mahasiswa baru. Dalam statusnya yang muncul beberapa kali, mahasiswa baru tersebut mengungkapkan kegembiraannya mendapat UKT yang terbilang murah. Sedangkan digambarkan dan ditegaskan baik oleh mahasiswa baru tersebut dan mahasiswa lain, bahwa penulis status adalah anak orang kaya yang berdasarkaan peraturan penetapan UKT tidak layak mendapat tagihan biaya serendah itu. Kecaman yang dilandasi amarah membanjiri akun si mahasiswa baru, menggambarkan perilakunya yang tidak beretika, tidak memiliki empati, bahkan hingga menipu rektorat silih berganti muncul. Suasana cukup tegang hingga akhirnya mahasiswa baru menyatakan permintaan maaf melalui video di akun jejaring sosial lain beberapa minggu setelah situasi panas berlangsung.

Dalam tulisan ini, tidak ada maksud untuk kembali mengungkit permasalahan yang telah lalu ataupun “menarik” kembali mahasiswa baru tersebut kedalam permasalahan yang telah dihadapinya dengan gagah berani – karena kiranya lebih banyak orang akan melarikan diri dari masalah daripada mengakuinya dan meminta maaf kepada khalayak. Justru pelajaran berharga layaknya kita petik dari kejadian ini. Karena analogi “puncak gunung es” sangat tepat untuk menggambarkan bahwa mahasiswa baru dengan statusnya di jejaring sosial itu hanyalah salah satu permasalahan yang tampak dari beragam permasalahan dalam tubuh generasi muda Indonesia saat ini. Segala tuduhan yang ditujukan diatas sekaligus adalah bentuk paling konkret dari permasalahan itu, yang bermuara pada satu titik, yaitu ketiadaan rasa peka atas situasi sosial di sekitar kita.

Ketiadaan kepekaan sosial ini yang kemudian memunculkan ketidakpedulian atas kondisi sosial. Berbuat apa saja yang dikendaki tanpa mengindahkan orang lain atau bahkan perannya dalam masyarakat. Padahal dalam konteks Indonesia, mahasiswa sering disebut golongan yang tercerahkan (enlightenment people) mengingat mereka yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi sedikit banyak dikarenakan faktor keberuntungan, beruntung karena dilahirkan sebagai anak-anak orang tua yang mampu membiayai. Dalam daftar yang dirilis Kementrian Koordinator Kesejahteraan Masyarakat, Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi Indonesia hanya sebesar 18,7%, tidak jelas kemana sisanya. Artinya, dari lima penduduk Indonesia hanya satu yang mengenyam pendidikan tinggi.

Melihat fakta tersebut, membuktikan bahwa ilmu yang nantinya diperoleh mahasiswa dalam perguruan tinggi diharapkan mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Diharapkan, satu orang itu dapat memberi arti bagi empat orang lainnya. Disinilah fungsi perguruan tinggi diharapkan tidak hanya sebagai memberi ilmu, melainkan juga membentuk manusia sebagaimana hakekatnya sebagai makhluk (yang katanya) sosial. Melalui masa studi yang ada, mahasiswa bisa saja lulus sebagai dokter yang handal, pengacara yang terpercaya, atau manajer yang hebat, namun itu semua tidak menjamin bahwa menjadi itu semua berarti menjadi manusia. Karena itulah menjadi manusia, selain ditanamkan kedalam sistem pendidikan, diantaranya melalui kurikulum, juga perlu benar-benar digarisbawahi oleh setiap mahasiswa dalam merangkai tujuan studi. Karena perlu diingat bahwa kehidupan akademis hanya bersifat menuntun peserta didik untuk meraih inti wacana keilmuan, sedangkan mengenai seberapa besar  penguasaan ilmu seorang mahasiswa ditentukan dari seberapa besar pelajaran yang mampu dia peroleh dalam kehidupan nyata. Tanpa adanya kepekaan itu, hal ini akan sulit tercapai.

Sedangkan menjadi manusia adalah tentang memberi arti dalam kehidupan yang hanya satu kali. Berperan dalam dinamika manusia melalui cara-cara sederhana sesuai kapasitas masing-masing. Sebagai mahasiswa, ragam cara tersebut diantaranya dengan memenuhi ruang-ruang diskusi, menyampaikan aspirasi dalam ruang-ruang publik, serta yang  tidak kalah penting adalah menguasai bidang-bidang studi yang didalami. Dengan menimang kebimbangan, diantara kecamuk peristiwa. Para mahasiswa tidak hanya hidup dalam dinamika zaman, melainkan juga memberi peran didalamnya. Diantara zaman yang terus bergerak, mereka mengambil ruang-ruang sosial diantara hiruk-pikuk kehidupan. Melontarkan beragam aspirasi kepada masyarakat yang telah mapan dalam alam pikir-nya.

Tantangan Zaman

Di era serba maya seperti sekarang ini, zaman menghadirkan tantangannya sendiri bagi manusia untuk meraih hakekatnya. Pendidikan formal di sekolah dan universitas bukan menjadi hal yang dominan bagi alam pikir generasi muda. Jejaring sosial dengan sejuta informasi dalam berbagai status orang lain justru menjadi sarana alternatif dalam apa yang disebut penge-tahu-an, sekedar tahu tentang sesuatu yang tidak mendasar. Banyak kajian, sangat banyak malah, yang menyebutkan bahwa fenomena ini mengakibatkan munculnya apa yang disebut individualisasi. Suatu proses dimana seseorang hanya berfokus pada dirinya sendiri dengan ciri khas sikap yang apatis, pragmatis, dan seringkali egois. Maka dari itu, di awal tulisan ini disampaikan bahwa kejadian mahasiswa baru itu hanyalah “puncak gunung  es” yang tampak di permukaan. Sedangkan di bawahnya, jutaan yang lain hanya tinggal menunggu giliran untuk melakukan hal serupa. Setidaknya hingga perngaruh “si maya” ini mampu dicarikan solusinya.

Inilah tantangan bagi mahasiswa baru Universitas Brawijaya, yang sesaat lagi akan mulai bergelut dengan kehidupan akademis. Hal-hal diatas adalah gambaran yang akan dihadapi. Tidak banyak sarana yang bisa diharapkan untuk meraih kemurnian hakekat manusia. Bahkan kebijakan Universitas Brawijaya, seperti yang tampak melalui banyak permasalahan orientasi pendidikan beberapa tahun belakangan, tampaknya tidak dapat diandalkan mampu menjadi sarana pendidikan yang ideal. Jangan terbuai dengan beragam slogan palsu yang diteriakkan oleh mereka-mereka di puncak menara. Masa Pengenalan Kehidupan Kampus adalah masa doktrinasi, menciptakan loyalitas tanpa batas bagi setiap mahasiswa baru akan almamater yang telah lama busuk. Menjadikan mahasiswa baru sebagai bahan mentah yang kemudian diolah melalui masa pendidikan untuk kemudian setelah lulus menjadi budak-budak baru di masyarakat. Dengan itu semua, tidak banyak yang tersisa selain keyakinan dan keteguhan hati bahwa cita-cita tidak sebatas mengisi perut, melainkan menjadi manusia.

 

*Mahasiswa Universitas Brawijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.