oleh M.G. Kurniawan*

Kawan,
Aku akan sedikit bercerita kepadamu
Tentang kegundahan yang meracuni nuraniku
Akhir-akhir ini
Tidak perlu berlama-lama
Kita mulai saja

***

Seorang teman pernah bertanya
Untuk apa kau kuliah?
Dengan enteng aku menjawab
Untuk mencari pekerjaan
Bodoh!!
Dia menghardikku dengan keras
Untuk dapat nilai bagus
Tolol!!
Dia menghardikku lebih keras
Aku bingung bukan main
Karena memang setahuku mahasiswa ya seperti itu
Kuliah adalah sayembara berhadiah nilai
Ketika mendapat hadiah, akan diganjar pekerjaan
Lalu aku bertanya apa maksudnya mengaggap aku bodoh lagi tolol
Dia mulai bercerita
Bahasanya halus, tertata, dan penuh pertimbangan

***

Maaf karena telah mengaggapmu bodoh lagi tolol
Namun memang seperti itulah kenyataannya
Kau terkungkung dalam kubangan hasrat
Hasrat untuk dapat nilai apik, untuk pekerjaan
Hanya saja kau menyalurkan hasratmu dengan cara yang kurang elok
Kau menghalalkan segala cara untuk dapat meraihnya
Mencontek, ngerepek, atau memberi beberapa rupiah pada dosen
Bukan seperti itu kawan, bukan!
Merugilah kalau itu benar yang kau pikir dan lakukan selama ini
Kita ada disini untuk banyak alasan
Salah satunya mengontrol konstelasi perkembangan bangsa
Tidak hanya mendewakan nilai
Mau tidak mau, suka tidak suka kita adalah motor penggerak
Yang mengakomodir kepentingan rakyat
Kita adalah wakil yang lebih baik daripada mereka yang mendekam di Gedung Keong
Kita adalah corong perubahan
Kita adalah mercusuar
Kita adalah pengadil
Kita adalah mahasiswa
Sayangnya kita lebih memilih apatis
Kita tenggelam dalam rutinitas belajar yang memang sudah dikondisikan seperti ini
Rutinitas dibuat sedemikian padat agar kita tidak lagi vokal
Agar mulut kita terkunci
Agar kita letih
Agar apa yang kita pikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan nilai sebaik-baiknya
Tidak perduli bagaimana caranya
Sekarang bom sudah ada di tangan kita
Terserah mau kita apakan
Mau kita lempar kepada pemangku jabatan
Agar mereka tersentak dan sadar akan kelicikannya
Atau hanya akan menjadi pajangan di etalase bernama kemunafikan
Ada cara agar kita benar-benar disebut sebagai motor perubahan
Kalau memperingatkan deadlock
Silahkan dialog
Kalu dialog mentok
Silahkan saling tonjok
Kalu tonjok masih kurang menohok
Silahkan berbuat anarkis dan hancurkan semua yang menurut kita kurang elok
Namun itu adalah selemah-lemahnya iman perjuangan mahasiswa

*mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB angkatan 2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.