Foto. Barisan kelompok simpatisan atas peristiwa di Mesir
Foto. Barisan kelompok simpatisan atas peristiwa di Mesir (foto oleh Fanandi)

MALANG-KAV.10 Aliansi Kemanusiaan Peduli Mesir Malang Raya menuntut pemerintah untuk segera bertindak dalam kerusuhan Mesir. Tuntutan tersebut diutarakan pada aksi damai, Minggu (18/8). Kegiatan ini dimulai dari depan Masjid Jami’ alun – alun Malang hingga Balai Kota Malang. Acara yang bertajuk “Aksi Peduli Mesir” ini berlangsung mulai pukul 09.00 pagi. Aksi ini diikuti oleh berbagai macam lapis elemen masyarakat se-Malang Raya seperti mahasiswa, pelajar, LSM, LAZ dan bahkan anak-anak.

Aksi ini dimulai dengan menyiapkan berbagai yel – yel akan akan dikumandangkan selama aksi berlangsung. Diantaranya jika ketua aksi meneriakkan kata “Mesir”, maka peserta aksi menyahut dengan “Muslim Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Selain itu peserta aksi juga mengarasemen lagu Merah Saga yang diperuntukkan untuk rakyat Palestina. Tidak ketinggalan juga lagu Ayo Rek yang khas Jawa Timur. Setelah itu, mereka mulai menyampaikan beberapa orasi yang intinya menghujat pihak militan Mesir dan mendukung rakyat untuk terus berjuang.

Setelah beberapa orasi, aksi dilanjutkan dengan melakukan long March melalui Jalan Jenderal Basuki Rahmat, Jalan Kahuripan, Jalan Tugudan berakhir di Balai Kota Malang. Sepanjang jalur long march, orator aksi menyerukan tiga tujuan mereka melakukan aksi tersebut. Pertama, mereka berharap kembalinya Mesir sebagai negara yang legitimate dan berkonstitusi. Kedua, sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap sejarah masa lalu dimana Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia secara de jure. Dan ketiga, pada saat peristiwa G 30 S terjadi di Indonesia, warga Mesir berbondong-bondong melakukan sholat ghaib untuk mendoakan korban peristiwa tersebut.
“Kita di sini berperang dengan opini publik, berperang dengan media. Selama ini media mengklaim apa yang terjadi di Mesir bukan lah kejahatan kemanusiaan tapi hanya kasus politik yang mengakibatkan perang saudara. Selama ini media memanipulasi pemberitaan mengenai jumlah korban yang berjatuhan di Mesir yang dikatakan tidak banyak,” ungkap perwakilan dari Bulan Sabit Merah (BSM) yang membuka orasi di depan Balai Kota Malang.

Senada dengan perwakilan dari BSM, Andi Tri Cahyono selaku koordinator lapangan (korlap) aksi juga menegaskan bahwa permasalahan mesir bukan sekedar kasus politik tapi sudah masuk ranah kejahatan kemanusiaan. “Bukan masalah mencampuri urusan negara Mesir tapi bukankah memang kasus-kasus kudeta, pembantaian, dan amnesti yang menimbulkan kejahatan berhak dilakukan intervensi oleh PBB. Indonesia sebagai negara anggota PBB selayaknya tanggap dengan hal ini dan mengambil peran terhadap alam demokrasi yang diciderai di Mesir. Salah satu caranya dengan menarik duta besar Indonesia yang ada di mesir karena ketika kita menarik duta besar paling tidak berpengaruh dan menjadi tekanan untuk Mesir,” tutur Andi di sela-sela wawancara.

Andi berharap aksi ini didengar oleh seluruh kaum muslimin khususnya di lingkup Malang Raya. Selain itu ia juga berharap pemerintah mendengar, pers mendengar sehingga Indonesia dapat menjadi mediator dalam kasus Mesir tersebut. Tindak lanjut dari aksi ini, seperti yang diungkapkan Andi bahwa fokus aksi tersebut pada akhirnya adalah media penggalangan dana kesehatan untuk korban konflik Mesir yang membutuhkan perawatan medis.
Aksi ini menyebabkan kemacetan di area bundaran Balai Kota. Jalan yang seharusnya satu arah menjadi dua arah karena sebagian jalan ditutup untuk jalannya aksi. Aksi ini berakhir pukul 11.00 siang berlangsung dengan tertib dan damai.(fan/aam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.