Foto. Salah satu pengendara motor yang  sedang membayar karcis masuk gerbang UB  ( Oleh Gema)
Foto. Salah satu pengendara motor yang
sedang membayar karcis masuk gerbang UB
( Oleh Gema)

MALANG – KAV.10 Ongkos masuk gerbang Universitas Brawijaya (UB) yang diberlakukan sejak tahun 2008 ternyata merupakan masalah yang cukup kompleks, sebab permasalahan ini tidak hanya menyangkut kepentingan mahasiswa saja. Biaya ongkos masuk ini dialokasikan untuk memberi gaji kepada petugas gerbang dan petugas parkir di UB. “Karena banyak yang nggak bayar, jadi dana untuk bayar tukang parkir sering minus,” ujar Handoko, salah satu petugas gerbang.

Dampak yang timbul dari kurang tertibnya mahasiswa yang sering menerobos gerbang tanpa membayar ini ternyata cukup besar terhadap anggaran dana yang harus ditanggung oleh pihak rektorat. Heri Prawoto Widodo, Kepala Sub  Bagian Biro Administrasi Keuangan dan Perencanaan (BAKP) Rektorat UB menjelaskan bahwa jumlah pemasukan yang didapat dari penarikan ongkos masuk tersebut tidak seimbang dengan jumlah petugas yang harus dibayar. “Jadi rekap penerimaan dananya defisit,” kata Heri.

Akan tetapi, menurut Heri, untuk mendisiplinkan pun juga tidak mudah karena  akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan dalam perbaikan sistem. Selain itu, perlu juga  ditambahkan aturan, peralatan, serta penambahan sumber daya manusia.

Mengenai fungsi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang sempat menjadi wacana sebagai pengganti ongkos masuk khusus untuk mahasiswa UB ini, belum ditetapkan kebijakan resminya dari pihak rektorat. Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB, Syahri Ramadhan Ahmad pun mengakui belum ada sosialisasi dari rektorat kepada pihak EM maupun DPM.

“Kami sendiri sudah ada arahan ke sana (membahas masalah ongkos masuk, red) tapi belum ada rancangannya,” jelas mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2009 ini. Ia menjelaskan bahwa saat ini EM dan DPM masih fokus mengenai masalah uang kuliah tunggal (UKT), beasiswa, dan PKK Maba 2013.

Salah satu solusi yang sudah pernah dilakukan yaitu berupa stiker berlangganan sebagai pengganti ongkos masuk, walaupun masih kurang efektif. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi ke setiap fakultas. Heri menjelaskan bahwa mulai tahun ajaran baru 2013-2014, solusi ini akan kembali dilakukan dan dipertegas. “Kami juga akan menempel pengumuman (terkait stiker )di fakultas-fakultas,” jelasnya. Rencananya harga untuk satu stiker sebesar Rp50.000 untuk sepeda motor dan Rp100.000 untuk mobil dan berlaku selama satu semester. (gma/aya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.