Oleh: Ilham Vahlevi

“Pelacur tidak peduli kehancuran bangsa. Mereka bernyanyi dan menari, sementara orang lain mati.” – Salah satu larik puisi kuno Cina. Diucapkan oleh tokoh Yu Mo dalam ‘The Flowers of Wars’

 

‘The Flowers of War’. Film ini adalah pengingat. Agar kita tak lupa. Agar kita mau menolak untuk lupa.

Film ini berlatar perang. Invasi Jepang saat berusaha menguasai Ibu Kota Republik China saat itu, Nanking. Berlangsung selama enam minggu, sejak 13 Desember 1937. Dunia mengenang peristiwa perang ini dengan sebutan ‘The Rape of Nanking.’

Seorang pengurus jenazah bernama John, dipanggil ke Katedral Winchester, Kota Nanking. Ia diminta untuk mengurus jenazah seorang pendeta, Bapa Ingleman. Tetapi ia tak bisa melaksanakan tugasnya. Jenazah Bapa Ingleman telah ‘terbang’, hancur akibat bom tentara Jepang. Dan yang terjadi adalah ia terperangkap, berlindung di katedral bersama beberapa siswi-siswi katedral dan satu orang pembantu pendeta bernama George Chen.

Penghuni gereja bertambah. Sekelompok pelacur dari tepian sungai Qun Huai berbondong-bondong ke katedral, melindungi diri dari keganasan tentara Jepang. Tentu saja penghuni katedral lainnya berang dan menolak pelacur-pelacur itu untuk ikut berlindung di dalam katedral. Mereka menganggap mereka mengotori kesucian gereja.

Tapi pelacur-pelacur cantik itu memaksa, walaupun harus menempati ruang bawah tanah katedral, gudang tempat penyimpanan anggur.

 

Keadaan memaksa John harus melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatan mereka, siswi-siswi katedral dan sekelompok pelacur tersebut. John, sebagai satu-satunya pria dewasa di tempat itu, berpura-pura menjadi pendeta untuk berusaha melindungi siswi-siswi katedral yang hendak di perkosa oleh satu pasukan Jepang yang birahi. Sejak itu, John berjuluk ‘Bapa John.’ Ia menjadi pendeta, karena aksi kemanusiaannya, bukan karena imannya.

Ada romansa yang terbangun dalam film ini. Kisah cinta yang senyap antara John dan Yu Mo, salah seorang pelacur dari kelompok pelacur Sungai Qun Huai yang berlindung di katedral.

Ada juga kisah heroik ala Rambo, dilakukan oleh seorang prajurit Cina untuk melindungi katedral dari pasukan pemerkosa Jepang. Seorang diri, ia mengorbankan diri membunuh satu pasukan. Juga ketika 12 pelacur itu merelakan diri untuk menggantikan 12 siswi-siswi katedral yang masih belia, untuk ‘disetor’ pada pasukan Jepang. Jika anda Katolik, anda pasti memahami makna jumlah angka 12 dalam film ini.

Pelacur-pelacur dari tepian sungai Qun Huai inilah barangkali yang disebut Bunga-bunga Perang dalam film ini. Mereka menjadi martir, demi melindungi orang lain dari bangsanya. Pelacur-pelacur ini mematahkan puisi kuno yang memandang mereka dengan pandangan miring.

‘Bapa John’, diperankan dengan sangat baik oleh Christian Bale, yang awalnya tak mau turut terlibat dalam peperangan, tapi pada akhirnya mau membantu mereka yang berlindung padanya. Keuntungannya sebagai ‘orang Barat’ ia manfaatkan untuk menyelamatkan perempuan-perempuan yang berlindung padanya. Tapi ia tak sepenuhnya berhasil. Ia memang tak bisa melindungi semuanya, tapi ia berhasil melindungi sebagian lainnya.

Didukung oleh tata suara minimalis dan visualisasi yang amat mengesankan, film ini sangatlah pantas untuk diapresiasi dengan baik. Tak ada adegan-adegan yang sia-sia dalam film ini. Semua terasa efektif dan efisien. Si pembuat film ini seperti tak mau main-main dalam pengolahannya. Karena ceritanya berlatar sejarah pahit bangsa Cina.

‘The Flowers of War’, seolah menunjukkan bahwa Cina tak akan pernah mau lupa pada kekejaman tentara Jepang dalam sejarah.

Sejarah kekejaman-kekejaman tentara Jepang di masa lalu pada rakyat Cina juga membuat hubungan kedua negara tersebut tidak pernah benar-benar akur. Bahkan baru-baru ini, hubungan diplomat antara Jepang dan Cina memanas akibat sengketa memperebutkan beberapa pulau di wilayah laut Cina Selatan. Gerakan anti-Jepang bergejolak di Cina. Beberapa orang juga tak lupa mengungkit sejarah kelam kekejaman Jepang pada Cina dahulu. Tentunya juga tentang tragedi Pemerkosaan Nanking.

Bangsa kita pun pernah merasakan pahitnya sejarah kelam kekejaman pasukan Jepang. Perempuan-perempuan bangsa kita dipilih dan dipaksa untuk dijadikan Jugun Ianfu. Mereka bukanlah pelacur. Mereka adalah korban. Tetapi masih ada sebagian dari bangsa kita memandang mereka dengan jijik.

Tapi kebanyakan dari kita saat ini telah lupa. Kita bahkan seperti tak mau tahu. Sebagian darinya atau keseluruhannya. Apa untungnya memperhatikan sejarah? Mungkin tak ada. Tapi kita bisa belajar banyak hal darinya.

Semoga kita bisa mempertahankan ingatan sejarah. Tapi tidak mewarisi kebenciannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.